Publication

Agroforestry Berbasis Jelutung Rawa : Solusi Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan Pengelolaan Lahan Gambut

Selain kendala yang terkait sifat lahan gambut (fisika, kimia, dan tata air), adopsi teknologi RHL dengan kegiatan penanaman (budi daya tanaman) juga mengalami hambatan. Transfer teknologi kepada petani lokal seringkali hanya diadopsi sebagian atau bahkan tidak diadopsi sama sekali oleh mereka. Hal ini disebabkan petani lokal pada umumnya memiliki sumber daya yang terbatas. Selain itu, kegagalan tersebut juga disebabkan oleh pendekatan yang bersifat topdown. Paradigma kegiatan RHL sebelumnya kurang mengedepankan partisipasi aktif petani lokal. Posisi mereka lebih banyak sebagai obyek, bukan sebagai subyek. Pola endekatannya pun cenderung bersifat menggurui (teaching) dibandingkan pola saling belajar bersama (learning). Salah satu pola tanam yang dapat dikembangkan di lahan gambut tersebut adalah sistem agroforestry. Sistem ini merupakan pola tanam yang dapat diterapkan di lahan yang rentan secara ekologi (fragile) dengan mempertimbangkan beberapa hal yang berhubungan dengan kapasitas pohon untuk tumbuh pada kondisi tanah dan iklim yang kurang menguntungkan. Salah satu aspek dasar dari peran agroforestry adalah memelihara kesuburan tanah. Penulisan buku ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai kelayakan pengembangan agroforestry untuk merehabilitasi hutan dan lahan gambut terdegradasi.
  • Authors: Harun, M.K.
  • Author Affiliation: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia
  • Subjects: agroforestry systems, peatlands, swamps, ecosystem management, social impact, economic impact, environmental impact, local communities
  • Publication type: Book
  • Year: 2015
Latest posts

PARTNERS

Founding member states
Republic of Indonesia Republic of the Congo Democratic Republic of the Congo Republic of Peru
Coordinating partners
Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia CIFOR UN Environment FAO